Apa itu Konotasi?

Konotasi adalah mengacu pada makna terkait, ekspresif, atau tambahan yang dimiliki kata atau frasa tergantung pada konteksnya.

Artinya, ketika konotasi sebuah kata atau frase diindikasikan, itu untuk menunjukkan makna sekundernya dalam konteks tertentu, yang secara umum menunjukkan pengertian tekstual yang lebih luas.

Konotasi juga merupakan tindakan dan efek berkonotasi, yang mengacu pada makna komplementer atau subyektif dari sebuah kata atau ungkapan.

Penggunaan konotasi kata sangat umum dalam bidang sastra, terutama karena ide atau situasi diungkapkan dan bahkan subjek disajikan secara diam-diam sehingga pembaca atau penafsir teks dapat memahaminya dan kontekstualisasikan dengan mudah.

Misalnya, “Wanita itu adalah bidadari.” Dalam kasus ini, seorang wanita dikonotasikan sebagai orang yang baik, dermawan dan pada siapa Anda dapat memiliki tingkat kepercayaan tertentu.

Arti ungkapan “adalah malaikat” tidak dapat dipahami secara harfiah, ini hanyalah cara untuk mengungkapkan dan mengekspos karakteristik subjek itu.

Juga sangat umum untuk menggunakan konotasi kata atau frasa sebagai sumber sehari-hari melalui komunikasi orang dan media, di mana sumber ini digunakan secara luas untuk mengirim pesan massal, umumnya, melalui kampanye iklan.

Dalam teks periklanan, mereka cenderung menggunakan bahasa konotatif dengan tujuan untuk meyakinkan publik dan membuat orang menginginkan produk atau layanan yang mereka iklankan.

Untuk itu, kampanye iklan mendukung konten tekstual atau dialognya dengan gambar, suara, bahkan model, yang menggoda pikiran publik.

Konotasi dan denotasi

Konotasi dan denotasi adalah dua makna yang ditempatkan sebelum satu sama lain dan karenanya merupakan antonim.

Jika konotasi mengacu pada makna ganda atau makna sekunder yang dimiliki kata atau frasa sesuai konteksnya, maka menurut konteksnya, denotasi adalah makna utama atau objektif dari sebuah kata yang dikenali oleh semua orang.

Misalnya, “Harga emas tetap stabil di pasar dunia.” Dalam hal ini, emas adalah logam mulia, yang arti atau denotasinya menunjukkan persis sama dengan arti utama dan tujuannya, oleh karena itu tidak perlu menyelidiki arti sekunder.

Namun demikian, dapat dikatakan bahwa persentase kata yang tinggi pada umumnya memiliki makna denotatif yang dilengkapi atau diperkaya oleh makna konotatifnya.

Dalam hal ini, disajikan kosakata yang luas dan kaya makna dan kegunaan yang kemudian dianalisis dan dipelajari dalam bidang linguistik.

Selanjutnya, kata yang sama dari contoh sebelumnya “emas” diambil untuk memberikan contoh bagaimana artinya dapat bervariasi melalui penggunaan konotatif kata tersebut.

Misalnya, “Persahabatanmu bernilai emas.” Dalam hal ini, arti kata emas tidak lagi digunakan secara penandaan dan dengan konteks dan konotasi dipahami bahwa itu merujuk pada persahabatan yang sangat dihargai dan lebih berharga dari apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *